Elegi di Ujung Simfoni Hening
Pernah kupintal sunyi dari benang tak berwarna, menjahitnya ke jasad waktu yang tak berselang pada cahaya yang tak menyadari dirinya terang, lalu menguap sebagai gema di altar bintang yang telah dicabut dari langit. Aku adalah tulang dari ranting yang dilipat dua oleh musim yang belum diputuskan, mengigaukan arah pada angin yang tak punya alfabet, menunggu gugur yang tak pernah mendapat tanggal. Di rahim semesta, ada ledak halus: adik dari darahku menjelma aksara yang tak dibaca menuju sekolah yang dibangun dari kaca, tiap tapaknya gema dari mulut yang tak bersuara bintang yang menolak jatuh meski langitnya ditulis dengan karat. Dan di tepi yang kusebut peluk, rasa tumbuh sebagai ilusi optik bukan wujud, hanya sisa dari cahaya yang menoleh, ada genggam yang tercetak di udara, tapi nadi tak pernah mencatat kehadiran. Kami tak lagi manusia, kami adalah tiga metafora yang menolak bentuk: satu terkubur di halaman yang tak dicetak, satu mekar di tanah yang tak percaya akar,...










