Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Elegi di Ujung Simfoni Hening

Pernah kupintal sunyi dari benang tak berwarna,  menjahitnya ke jasad waktu yang tak berselang pada cahaya yang tak menyadari dirinya terang,  lalu menguap sebagai gema  di altar bintang yang telah dicabut dari langit. Aku adalah tulang dari ranting yang dilipat dua oleh musim yang belum diputuskan, mengigaukan arah pada angin yang tak punya alfabet, menunggu gugur yang tak pernah mendapat tanggal. Di rahim semesta, ada ledak halus: adik dari darahku menjelma aksara yang tak dibaca menuju sekolah yang dibangun dari kaca, tiap tapaknya gema dari mulut yang tak bersuara bintang yang menolak jatuh meski langitnya ditulis dengan karat. Dan di tepi yang kusebut peluk, rasa tumbuh sebagai ilusi optik bukan wujud, hanya sisa dari cahaya yang menoleh, ada genggam yang tercetak di udara, tapi nadi tak pernah mencatat kehadiran. Kami tak lagi manusia, kami adalah tiga metafora yang menolak bentuk: satu terkubur di halaman yang tak dicetak, satu mekar di tanah yang tak percaya akar,...

Postingan Terbaru

Matahari

anotasi kuning putih dipuja puja seekor burung rajawali

Levina Handayani

Konotasi

Ibu

Hujan Duka

Ramadhan di Tengah Pandemi

C-19

P

Wajah Baru Transportasi

Pemain ke Dua Belas

Harapan

Euforia di Tengah Terror

Sebuah Kebanggaan

Naif

Djokdja

Pemilu 2019

Dimensi Rasa

Turun atau Hancur

Kusut

Lara

Hasrat

Nona

Makan Lantas Mati

Desember 2014

Shubuh

Persetan

Not Perfect But Respect

Orang Tua

Malam

Melawai

Abnormal

Emakota