Euforia di Tengah Terror
Yang kini masih kental adalah Persija yang berpusat di Jakarta pusat, lalu kini dijadikan alat pemersatu DKI Jakarta. Dibalik ini semua ada dalang yang masih meminta hak hak nya dipenuhi oleh pemerintah setempat yakni NJ Mania sebutan suporter Persitara, yang berada di ujung utara. Gesekan sering terjadi akibat kecemburuan pihak salah satu suporter. Yang saya bingungkan mereka menggunakan atribut yang berlambang monas di dada saling ricuh mericuh. Yang membedakan hanyalah warna kebesarannya saja, Persija sangat bangga dengan warna Orange/Merah sedang Persitara bangga dengan warna birunya.
Ini tidak bisa terjadi secara terus menerus, mana mungkin masih satu wilayah hanya berbeda keyakinan masih terjadi gesekan, bukannya kita sama besar di Jakarta? Selain sesama dari Ibukota kini sangatlah kerap panas rivalitas yang terjadi antara klub kebanggan kota Jakarta, dengan klub yang berasal dari tanah pasundan, Persija Jakarta vs Persib Bandung. Ini merupakan rivalitas terpanas yang terjadi di negeri ini, bagaimana tidak selalu saja hilangnya nyawa ketika team ini bertanding satu sama lain.
Sering biasa disebut El clasico nya Indonesia, ini menjadi buah bibir di kalangan masyarakat, nyawa seperti sudah tidak ada harganya lagi, bentrok antar suporter sering terjadi ini yang menyebabkan makin panasnya rivalitas kedua kubu kesebelasan. Bukan ini saja masih banyak lagi pertikaian di dunia sepakbola Indonesia. Ada saja terkaman terror yang menghantui Euforia kemenangan. Saya berpendapat mungkin musuh terbesar kita adalah sifat gengsi yang terus menular, ketidaktahuannya arti dari sebuah teknologi yang maju, dan yang paling besar adalah para mafia yang mengatur ketidaksehatan sepakbola Indonesia. Ini semua harus kita berantas, demi sebuah cita menjadikan sepakbola Indonesia lebih maju dan jaya kembali demi sang saka merah putih
Kita lahir, besar atauapapun di bumi pertiwi ini, lihatlah arah jangka ke depan jangan ikuti arah nafsu sesaat yang tidak menguntungkan sama sekali. Berjuang bersama memberantas musuh yang nyata, saatnya bergandeng tangan demi asa Indonesia lebih berjaya kembali di tingkat yang lebih tinggi.
JAKMANIA
Arlan Setiawan.

Komentar
Posting Komentar