Konotasi
"seumpama kita adalah bait-bait kata yang harus disampaikan, deklamator pun bingung menyampaikannya"
di proklamir Desember 2022 bertepat di halaman blog pribadi dari seruput kopi warkop waktu Indonesia bagian berkalut.
Malam itu. Celana panjang, kaos hitam, dan notif pesan WhatsApp di saku celana menelaah malam dari kesemrawutan Indomie yang tak diiris dengan cabai rawit. Datang dengan sepeda motor yang tiap hari silih berganti menjadi saksi akan pertukaran barang. Bergerombol senjata dengan pertanyaan dibalas dengan terkaman gesture dan senyuman palsu sang Deklamator.
Aku adalah senyuman palsu dengan kopi hitam dan beberapa batang sampoerna mild. Aku adalah sanggahan dari gerombolan bersenjata. Dan akupun adalah cabai rawit yang tak diiris di santapan Indomie kuah kari malam itu. Menceritakan kepalsuan gairah kehidupan adalah hal yang paling bodoh seorang Deklamator. Jika bait adalah kehidupan, dan jika bait satunya adalah rasa hambar, lalu narasi apa yang harus disampaikan ke khalayak apabila dikonotasikan dalam dongeng kehidupan.
Pulang dengan tenang, hidup bukan selalu tentang kehidupan bahkan kematianpun bukan selalu tentang ketakutan. Simpan gulamu didapur, berikan ruang untuk kopi dan gelasmu. Karena pramusaji terbaik adalah dirimu sendiri.
ditulis sengaja dengan kata yang tidak mudah dipahami.
Arlan Setiawan

Komentar
Posting Komentar