Ibu



Aksara Maret merajut dengan goresan senyum
Pindah haluan sepuluh kilo tapak kaki terhentak
Bintang di malam purnama disambut dengan peluk
Dua satu enam belas tangis saksi merekah tak terbatas

Angka bergumam biasa mengexploitasi buah hati
Terjang badai sudah biasa mencambuk ekspektasi
Menopang haluan segala panah akselerasi
Berhasrat pacuan sorak sorai genjatan aklamasi

Akreditas predikat bagai roh asmaramu
Berjalan menyusuri belukar rimba yang rimbun
Air melimpah ruah bagai kristal di kelopak matamu
Berujung sapi suci yang disembah bagai dewa wisnu

Berlega hati taruna kokoh dihadapan surga
Dara yang berderai darah menikam ke dalam sukma
Maaf, aku hanya patung yang membisu apatis
Terimakasih sarwa, ruang waktu dan Ibu.


Arlan Setiawan

Komentar

Postingan Populer