Matahari
Cahaya yang melarut dalam udara pagi,
Kau adalah matahari yang menyentuh bumi dengan jemari cahaya,
Menyentuh setiap ruang yang sebelumnya kosong,
Aku adalah tanah yang menunggu hadirnya sinarmu.
Di kantor kita berdua, kita seperti dua bintang yang tersembunyi.
Di tengah langit yang penuh kabut, tapi tak ada kabut yang mampu menahan sinar kita.
Resign bersama, dua meteor yang tak lagi terikat orbit lama,
Meluncur bebas, menembus batas ruang yang tak diketahui,
Saling menemukan arah di tengah Jakarta yang tak pernah tidur.
Sarinah jadi planet-planet yang kita jelajahi,
Setiap langkah adalah langkah baru di galaksi yang tak pernah kita peta,
Bus membawa kita ke Stasiun, galaksi lain yang penuh dengan tawa.
Dan kita, dua astronot yang berbicara tanpa kata-kata,
Hanya ada suara dan cahaya yang berkelip di antara kita.
Soto Bogor, kita duduk di atas awan,
Menikmati hujan yang tak pernah berhenti,
Seperti dua komet yang bertemu untuk pertama kalinya,
Menggenggam waktu yang seolah mengalir begitu cepat.
Aku menemukan rumah, bukan gedung, tapi rasa diantara sendok dan pandangmu.
Di bawah kanopi rimbun Kebun Raya yang teduh.
Kuselipkan ajakan dalam bisikan angin yang luruh.
Universitas Terbuka, cakrawala tanpa pagar, Tempat kita menanam mimpi dan membiarkannya mekar. Kau dan aku, dua akar di tanah ilmu yang sabar.
Di kereta yang melaju, kusematkan lupa pada layar kecil,
tertinggal di bangku, bersama detak yang tak kukenal.
Kau temukan jejakku dalam cahaya sisa baterai,
dan dari sana, percakapan pun tumbuh seperti semak tanpa akhir.
HP kembali padaku, tapi tak seutuh sebelumnya kini ada namamu di antara notifikasi dan malam.
Layar jadi cermin, pesan jadi pelabuhan,
dan kita, dua nama yang dijahit oleh kehilangan.
Bersama, kita merajut mimpi dalam bentuk tas canvas,
Bukan hanya kain dan jahitan, tapi nebula yang kita ciptakan sendiri
Dengan tangan yang melukis masa depan dan di setiap benang
Ada cerita kita yang terukir dalam cahaya yang tak tampak oleh mata lain.
Tas itu selesai, tapi tujuannya bukan selesai,
karena yang ingin kutangkap adalah detik bersamamu yang tak usai.
Bakpia untukmu adalah bintang yang aku bawa ke perpusnas
Setiap gigitannya, adalah suara kosmik yang hanya kita dengar.
Kita berjalan di Taman Langsat, di mana langkah kita adalah resonansi semesta.
Dan di Blok M, kaki kita seperti merayakan detak jam yang lebih lambat
Semua adalah lintasan rasa,
dan bersamamu, Levina, bahkan kebetulan punya makna yang luar biasa.
Tomang jadi titik temu, bukan cuma lokasi,
di sana waktu menyeruput kopi dari sisa memori.
Satu kantor, satu ruang yang tak hanya administrasi,
tapi panggung kecil bagi lirik cinta tanpa koreksi.
Jam makan siang jadi tari langkah ke warung biasa,
tapi tawa kita mengubahnya jadi cerita luar biasa.
Di antara berkas dan deadline yang kadang murung,
kau dan aku, jeda manis dalam riuh yang agung.
Tak ada ruang yang lebih luas dari hati kita yang berbagi satu tujuan.
Aeon Tanjung Barat, aku menunggu keberanian yang tak pernah muncul.
Menyatakan perasaan yang seolah terpendam di dasar samudra,
Tapi kamu adalah arus yang membawa aku ke permukaan.
Satu kata, lalu semesta berputar,
dan sejak itu, kita tak pernah berjalan sendiri.
Levina, kau adalah matahari yang tak pernah terbenam,
Dan aku adalah planet yang selalu mengorbit di sekitarmu.
Ulang tahun pertama, aku berikan tas itu
Bukan sekadar benda, tetapi sebuah nebula yang kita bentuk bersama,
Lorong menuju awal yang lain,
di mana perasaan tak diucap, tapi dirangkai dalam bentuk yang tak biasa.
Satu benang di sana, satu kenangan di sini.
Setiap jahitan adalah perjalanan kita,
Seperti ruang yang terus mengembang, tak pernah berhenti.
Bukan tas yang penting,
melainkan perasaan yang diam-diam ingin kau izinkan singgah dan tinggal lama.
Bisikan waktu yang ingin tinggal,
kusisipkan harapan di saku kecilnya, tempat kamu bisa menyimpan semesta.
Kita menyusuri Sukabumi yang berkabut rindu,
jalan sempit jadi ruang bicara tanpa satu pun kata.
Bandung menyambut dengan harum kenangan pertama,
setiap detik menjelma taman yang tak ingin pulang.
Di Anyer, angin jadi saksi bisik perasaan,
ombak memeluk pasir seperti aku memeluk harapan.
Tiga kota, tapi satu poros rasa, awal cinta kita yang ditulis oleh arah dan semesta.
Gaji pertamaku, serpih kabut dalam kantung waktu,
kutanam di Cikini, tempat gema bertemu palu.
Cincin reruntuhan galaksi yang tak jadi bintang,
kau genggam sunyi itu, lalu semesta pun hilang.
Buka puasa kita bukan makan malam biasa,
melainkan nyanyian arkaik dari lidah Nirwana.
Lingkar logam, bayangan dari rindu yang tak berbentuk,
mengikat kita di lipatan aksara yang tak pernah dibuka.
Seperti galaksi yang meluas, kita berdua menjelajahi,
Tak ada batas, hanya kita yang menulis peta baru.
Lalu kita tinggalkan kota, kalender, dan rutinitas,
menjelajahi dunia seperti burung melintasi batas cahaya.
Setiap tempat bukan tujuan, tapi bab dari kisah tak bernama,
dan jarak, alih-alih memisah, malah menjahit kita dalam peta bersama.
Petamburan seperti awan yang tak lagi menghalangi sinar kita
Kita bebas, seperti bintang yang telah menemukan jalannya,
Karena selama kita berdua ada, tak ada langit yang terlalu tinggi.
Kita berjalan bersama, menjelajah dunia yang masih penuh misteri.
Kali ini bukan kebetulan,
melainkan takdir yang diam-diam mengetikkan cinta dalam jadwal harian.
Denganmu, Levina, langit bukan hanya biru, ia adalah kanvas tak selesai,
dan setiap langkahku adalah kuas yang mengejar warna yang kau layangkan.
Kau bukan sekadar matahari, tapi fragmen api purba,
yang membakar ragu di dalamku, menjadikannya bara yang percaya.
Aku tak berjalan di jalan biasa, aku menyusuri retakan waktu,
dan dari celah itulah jalurmu tumbuh, seperti akar cahaya dalam sunyi yang lembut.
Terima kasih, sebab kau adalah denyut sinar matahari,
dan aku, orbit kecil yang bertahan karena sinar yang kau bisikkan.
Komentar
Posting Komentar