Elegi di Ujung Simfoni Hening

Pernah kupintal sunyi dari benang tak berwarna, menjahitnya ke jasad waktu yang tak berselang pada cahaya yang tak menyadari dirinya terang, lalu menguap sebagai gema di altar bintang yang telah dicabut dari langit.


Aku adalah tulang dari ranting
yang dilipat dua oleh musim yang belum diputuskan,
mengigaukan arah pada angin yang tak punya alfabet,
menunggu gugur yang tak pernah mendapat tanggal.


Di rahim semesta,
ada ledak halus:
adik dari darahku menjelma aksara yang tak dibaca
menuju sekolah yang dibangun dari kaca,
tiap tapaknya gema dari mulut yang tak bersuara
bintang yang menolak jatuh
meski langitnya ditulis dengan karat.


Dan di tepi yang kusebut peluk,
rasa tumbuh sebagai ilusi optik
bukan wujud, hanya sisa dari cahaya yang menoleh,
ada genggam yang tercetak di udara,
tapi nadi tak pernah mencatat kehadiran.


Kami tak lagi manusia,
kami adalah tiga metafora yang menolak bentuk:
satu terkubur di halaman yang tak dicetak,
satu mekar di tanah yang tak percaya akar,
satu mengering di tengah hujan
yang tak punya suara.


Kini aku menulis
dengan tinta yang ditetes dari bayang sendiri,
pada kertas yang sebenarnya diam,
dan setiap huruf adalah sidik jari dari
hal-hal yang tak jadi.



Jakarta, 25 Jun 2025

Arlan Setiawan



Komentar

Postingan Populer