Sebuah Kebanggaan
Sesuai dengan tema yang diusung, bagaimana warisan Jakarta, penggerak alat perlawan terhadap kolonial belanda, sebuah alat perjuangan, sebut saja sepakbola asal Jakarta satu ini, Persija Jakarta.
Bagaimana diri ini yang lahir, besar di Jakarta dengan semrawut bibir jahat yang menerka kota yang menyimpan seribu harapan .
Saya mungkin salah satunya yang menjadi bagian dari Ibukota bukan bibir jahat yang menerka kota ini, mungkin sebaliknya. Bagaimana tidak "Pahit dan manis cerita kami telan dan rasakan bersama demi sebuah cita. Diajari hidup untuk jadi pemenang bukan pecundang". Mungkin kata ini selalu saya resapi untuk kota yang saya banggakan.
Dibalik kota kebanggaan ini masih ada yang harus dibanggakan dari warisan, budaya, kuliner, adat istiadat, dan jangan terlupakan untuk team sepakbola asal kebanggan Jakarta, Persija.
Entah, diri ini seakan sudah melekat dengan kota ini dan Persija. Bagaimana mungkin ketika masa kanak kanak semua sibuk dengan suasana pertumbuhan masa kecilnya, bermain bersama, tertawa bersama, hingga bercanda bersama.
Bukan diri ini tidak aktif dengan lingkungan sekitar tetapi yang saya ingin bulatkan bahwa ketika Persija bertanding dunia ini berasa milik sendiri dan ketika Persija bertanding seakan akan hasrat menggebu dengan team kebanggaan ini, walau belum merasakan atmosfer stadion yang semriwih meriahnya tapi tak luput lupa untuk menyaksikan, menyokong dari layar televisi. Ini hal yang tak biasa dilakukan untuk anak anak seusia biji cabe atau sebut saja masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dengan semangat membara, teriak meneriaki isi ruang tamu dengan memakai sebuah kaos team kebanggan yang sengaja dibelikan oleh orang tua ketika berulang tahun. Mungkin sebagian besar anak anak merengek meminta hadiah yang sepatutnya dimainkan oleh anak anak. Tapi tidak dengan diri ini justru jiwa orang tua sudah tau dengan diri saya. Bukan senang mainnya diberikan atribut sebuah team kebanggan walau masih dibilang bocah lanang.
Entah kesukaan ini menular dari siapa. Ayah lebih suka menganggumi angkatan bersenjata Indonesia, sedang ibu menyukai apapun alakadar nya saja. Walau dibilang sepakbola Indonesia belum sempurna, tapi kecintaan Persija sangat melekat "Kalau bukan karena Persija, mana mungkin mencintai liga busuk negeri ini."
Semakin tumbuh dewasa tidak menghilangkan kecintaan ini, kata orang "kalau sudah cinta mah susah, apapun dilakukan." terhadap klub yang dulu bernama VIJ. Saya berpendapat "Stadion sekelas apapun di dunia tidak bisa mampu menampung riwuh suasana suporter Persija, sebut saja The Jakmania." . Ini fakta tidak bisa dipungkiri, stadion megah terbesar di Indonesia, stadion utama Gelora Bung Karno (GBK) yang berkapasitas 80.000 saja tidak bisa menampung antusias penonton. Bagaimana tidak suporter ini tumpah ruwah di Indonesia maupun di belahan dunia manapun.
Dulu hanya bisa menonton dari layar kaca tapi kini semakin tumbuh dewasa rasanya sangat menikmati atmosfer stadion dengan chant chant yang diciptakan untuk menumbuhkan semangat juang para pahlawan yang bertanding di lapangan hijau. Mungkin Persija salah satunya yang bisa membuat saya bahagia maupun murung dalam kesedihan. Rindu juara sudah terobati saat Persija mengembalikan kejayaannya dengan notabane Juara tahun 2018 dengan penantian terakhir juara tahun 2001 kala saya belum dilahirkan.
Banyak orang mengatakan dunia suporter sangatlah kejam, jangan dilihat dari segi itu tapi lihat dari segi pengorbanan dan kesetiaannya. Mari bersama bangkitkan sepakbola Indonesia yang lebih maju dengan menggunakan akal sehat, sepakbola bukan ladang pembantaian justru sepakbola ajang kreativitas dan menjalin ikatan persaudaraan.
Banyak yang ingin saya sampaikan tetapi saya bukan penulis dan inipun sudah terlalu panjang.
Ketika loyalitas, tanggung jawab serta kecintaan menjadi satu untuk sebuah team kebangaan, Persija Jakarta.
Sekalinya Persija tetaplah Persija. Jadikan Persija selamanya bukan Persija segalanya.
Sekian...
Arlan Setiawan.

Komentar
Posting Komentar