Naif
Ketika ku masih bersandar,
di hadapan kerumunan daun bertebar.
Menulis harapan tanpa ku sadar,
tentang mu apa yang ku pikir di nalar.
Sadarkah?
Ku ceritakan semua kepada semesta.
Tentang hadirnya mutiara bermahkota
dan tentang hadirnya rangkaian uraian kata.
Tapi, lihatlah...
Betapa aku ini seorang pengecut.
Menyimpan harapan dalam diam
dengan hasrat mengenggam semua harapan.
Di luar sana angan seakan berkonfrontasi
dengan para pesaing bermateri.
Baiklah. Aku pejamkan mataku
tak tertembus lampu, kecuali bayangmu.
di hadapan kerumunan daun bertebar.
Menulis harapan tanpa ku sadar,
tentang mu apa yang ku pikir di nalar.
Sadarkah?
Ku ceritakan semua kepada semesta.
Tentang hadirnya mutiara bermahkota
dan tentang hadirnya rangkaian uraian kata.
Tapi, lihatlah...
Betapa aku ini seorang pengecut.
Menyimpan harapan dalam diam
dengan hasrat mengenggam semua harapan.
Di luar sana angan seakan berkonfrontasi
dengan para pesaing bermateri.
Baiklah. Aku pejamkan mataku
tak tertembus lampu, kecuali bayangmu.
Arlan Setiawan
Komentar
Posting Komentar